Bungkus dan Isi
Wahai anak cucu Adam ! Sesunguhnya
Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan
bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. (QS. Al-A’raf : Ayat
26)
Ajining diri soko lathi, ajining rogo
soko busono. (Pepatah Jawa). Jika ada bahasa yang bilang, “jangan lihat buku
dari covernya” itu tidak sepenuhnya benar, dan tulisan ini juga tidak
menyalahkan sepenuhnya.
Selanjutnya, dalam hal berpakaian.
Walaupun tidak semua yang ada di dalam tidak bisa dilihat dari bungkusnya saja.
Akan tetapi disini, adalah sebaliknya. Ada beberapa hal yang perlu kita ingat
kembali tentang isi yang bagus harus dengan bungkus yang sesuai pula.
Pertama, seperti yang kita ketahui semua,
banyaknya model pakaian sampai gaya-gaya ber-busana kita tidak lagi kekurangan.
Mulai dari gaya-gaya yang biasa saja, sampai gaya-gaya luar biasa hasil jajahan
budaya luar. Sampai disini adalah tentang filter gaya busana luar untuk bisa
terpakai pada dengan budaya sendiri.
Kedua, sosial envy. Kecemburuan sosial disini
adalah, kecenderungan masyarakat yang hanya ikut-ikutan takut ketinggalan
zaman. Cicipi model pakaian baru, untuk sekedar pasang Photo Profile di
akun sosial media.
Kedua sisi lain dari bagusnya bungkus
di atas yang kemudian memunculkan bahasa “jangan lihat isi dari covernya saja”.
Ketiga, karena bahasa diatas hanya selalu
mengindahkan isi dan tanpa mempedulikan cover. Pertanyaan pertama yang muncul
adalah, bagaimana isi bisa menarik, jika covernya saja tidak meyakinkan ?. Jika
kita kembalikan kepada pepatah Jawa diatas, maka isi tidak akan berarti tanpa
bungkus yang sesuai.
Keempat, seperti yang telah di jelaskan dalam
ayat diatas. Jelas, perlunya cover yang baik pula. Mulai dari sini, sindiran
untuk memulai berbusana dengan baik muncul.
Kelima, untuk selanjutnya adalah soal kritik
kepada cara berpakaian remaja muslim. Yang kurang memperhatikan pakaiannya
dengan dalih, pakaian ini tidak sama dengan isinya. Sebagai contoh adalah
muslimah yang tidak berhijab, karena merasa baik tidak harus dengan berhijab.
Keenam, sedikit bocoran tentang bagaimana
cara kerja mata lelaki melihat bungkus dan isi. “Engkau salah pakai baju,
mereka melihat dengan nafsu. Engkau perbaiki cara berpakaian mu, mereka
melihatnya dengan iman”. Ini juga berarti hal yang baik harus dibungkus dengan
cara yang baik.



Komentar
Posting Komentar